Lestarikan Warisan Bangsa, SMAN 1 Gambiran Bekali Siswa Keterampilan Membatik Tulis

Lestarikan Warisan Bangsa, SMAN 1 Gambiran Bekali Siswa Keterampilan Membatik Tulis


Dok. Siswa SMA Negeri 1  Gambiran Sedang Melaksanakan Kegiatan Membatik untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Pelajaran Seni Budaya

Gambiran, Banyuwangi, Rabu (15/10/2025) – Siswa kelas 11-6 SMAN 1 Gambiran rutin mengikuti praktik membatik sebagai bagian dari mata pelajaran Seni Budaya. Kegiatan yang diadakan setiap tahun ini merupakan upaya sekolah untuk melestarikan warisan budaya Indonesia sekaligus menumbuhkan kreativitas dan keterampilan siswa.

Membatik adalah seni menghias kain dengan teknik menerakan malam (lilin) untuk menahan warna, sehingga menghasilkan pola yang unik. Di SMAN 1 Gambiran (SMAGAM), teknik yang digunakan adalah batik tulis manual, yaitu menggunakan canting dan malam yang diaplikasikan langsung pada kain.

Pelaksanaan praktik membatik ini dipusatkan di ruang khusus membatik. Menurut Guru Seni Budaya, Anita Nur Siwi, S.Pd., penggunaan ruangan khusus ini penting.

"Tempat membatik hanya ada satu, yaitu di ruang batik. Jika dilakukan di tempat lain, bila ada kotor dan sebagainya akan sulit dipertanggungjawabkan," ujar Bu Siwi.

Bu Siwi juga mengungkapkan bahwa ide pertama untuk mengajarkan batik tulis di SMAGAM berasal dari rekan sesama guru Seni Budaya, Pak Eko, yang kemudian didukung penuh oleh pihak sekolah. Bu Siwi sendiri bertugas membantu dan mendampingi proses pelaksanaan praktik tersebut.

Dalam prosesnya, siswa mengikuti tahapan membatik tulis yang cukup panjang. Bu Siwi menjelaskan alur lengkapnya:

“Dalam tahapan proses membatik, yang pertama ialah merendam kain atau istilahnya ngeplong, setelah itu dijemur, lalu dibuat motif batik. Motifnya ditentukan sekolah, tapi anak-anak boleh memilih motif batik yang sesuai dengan seleranya masing-masing. Langkah keempat yaitu menyanting, yakni merekatkan malam pada kain, ini prosesnya cukup lama," jelas Bu Siwi.

Tahapan selanjutnya adalah pewarnaan atau nyolet, yang dimulai dari warna motif, dilanjutkan dengan warna dasar. Setelah diwarna, kain di-water glass untuk mengikat warna selama dua jam, kemudian dibilas dan dijemur.

Tahap terakhir yang krusial adalah melorot, yaitu menghilangkan lilin pada kain dengan cara direbus. "Kalau sudah selesai direbus, lilinnya sudah hilang, dikeringkan, lalu kain siap," tambahnya.

Bu Siwi menuturkan, jika dikerjakan tanpa disela kegiatan lain, satu kain sepanjang 2meter dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, karena praktik ini dilakukan di sela-sela pembelajaran, pengerjaannya biasanya membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menyelesaikan satu potong kain.

Kegiatan membatik di SMAGAM ini sendiri sebenarnya merupakan bagian dari kurikulum mata pelajaran Seni Budaya subtema seni rupa dua dimensi. Pihak sekolah tetap mendukung dan memfasilitasi penuh praktik batik tulis sebagai sarana pengembangan kreativitas sekaligus upaya nyata pelestarian budaya bangsa.

Meskipun prosesnya memakan waktu dan membutuhkan ketelitian tinggi, para siswa mengaku senang mendapat kesempatan langsung mempraktikkan warisan budaya ini. "Awalnya kaget karena ternyata membatik tulis itu rumit, terutama saat menyanting harus sabar dan hati-hati agar malamnya tidak bocor. Tapi rasanya bangga, karena kami bisa ikut melestarikan batik yang sudah diakui UNESCO. Hasilnya akan menjadi kenang-kenangan yang berharga," tutur salah satu siswa.

Kegiatan membatik di SMAGAM ini sendiri sebenarnya merupakan bagian dari kurikulum mata pelajaran Seni Budaya subtema seni rupa dua dimensi. Pihak sekolah tetap mendukung dan memfasilitasi penuh praktik batik tulis sebagai sarana pengembangan kreativitas sekaligus upaya nyata pelestarian budaya bangsa.

Dok. Wartawan muda kelas 11-6 kelompok 6 Wawancarai Bu Siwi selaku Guru Seni Budaya dalam Mata Pelajaran Seni Budaya Praktik Membatik.

error code: 522